Bank Indonesia (BI) tidak memiliki rencana untuk mencetak uang tambahan dalam jumlah besar yang dapat mempengaruhi jumlah uang beredar secara signifikan. Namun, BI akan membeli obligasi pemerintah senilai Rp150 triliun di pasar sekunder pada tahun 2025 sebagai bagian dari kesepakatan dengan pemerintah untuk menangani jatuh tempo obligasi era COVID-19 yang dibeli selama program "burden-sharing" pada periode 2020-2022. Langkah ini bertujuan untuk mengelola likuiditas tanpa mencetak uang baru secara langsung.
Selain itu, menjelang Lebaran 2025, BI menyediakan layanan penukaran uang baru melalui platform PINTAR BI untuk memenuhi kebutuhan masyarakat akan uang baru selama periode tersebut.
Secara keseluruhan, tidak ada indikasi bahwa BI akan mencetak uang tambahan dalam jumlah besar yang dapat mempengaruhi stabilitas ekonomi Indonesia.
Jika Indonesia memutuskan untuk mencetak uang dalam jumlah besar guna membiayai defisit anggaran atau menutupi kebutuhan likuiditas akibat utang jatuh tempo, maka dampaknya terhadap nilai tukar rupiah terhadap dolar AS akan sangat signifikan. Berikut adalah skenario tambahan dalam model prediksi:
Skenario Indonesia Mencetak Uang Lebih Banyak (Quantitative Easing Berlebihan)
Lonjakan Inflasi
- Peningkatan jumlah uang beredar tanpa pertumbuhan ekonomi yang seimbang akan menyebabkan inflasi melonjak.
- Jika inflasi Indonesia naik ke level 7-10% (di luar target BI sekitar 2-4%), maka nilai rupiah bisa semakin tertekan karena daya beli masyarakat melemah.
Pelemahan Kepercayaan Investor
- Investor asing bisa kehilangan kepercayaan terhadap kebijakan ekonomi Indonesia, menyebabkan capital outflow yang lebih besar.
- Yield obligasi pemerintah akan naik, yang berarti pemerintah harus membayar bunga lebih tinggi untuk menarik investor agar membeli Surat Berharga Negara (SBN).
Dampak Langsung ke Rupiah
- Rupiah bisa mengalami depresiasi lebih tajam dibanding skenario normal.
- Jika tekanan ekonomi memburuk, nilai tukar rupiah bisa tembus Rp19.000 - Rp20.000 per USD sebelum akhir 2025.
- Jika hyperinflation terjadi (lebih dari 10%), rupiah bisa anjlok ke Rp22.000 atau lebih terhadap USD.
Langkah Darurat Bank Indonesia
- BI kemungkinan akan menaikkan suku bunga secara agresif untuk menahan inflasi dan menjaga stabilitas rupiah.
- Cadangan devisa bisa terkuras lebih cepat jika BI melakukan intervensi pasar dengan menjual dolar.
Kesimpulan Model Prediksi Rupiah - USD Akhir 2025:
Skenario | Prediksi Kurs Rp/USD (Des 2025) |
---|---|
Skenario Normal (tanpa cetak uang berlebihan) | Rp18.000 - Rp18.500 |
Skenario Cetak Uang Berlebihan (Inflasi 7-10%) | Rp19.500 - Rp20.000 |
Skenario Terburuk (Hyperinflation >10%) | Rp22.000 atau lebih |
Jika Indonesia mencetak uang dalam jumlah besar, dampaknya bisa sangat buruk, terutama jika tidak diimbangi dengan kebijakan moneter dan fiskal yang disiplin. Namun, Bank Indonesia sejauh ini menunjukkan komitmen kuat untuk menjaga stabilitas rupiah dan menghindari skenario ini.